Bottlesmoker, Band Indie dari Bandung Dukung ProFauna

Peringatan Hari Primata Indonesia di Kota banfung terasa istimewa, karena disemarakkan dengan kehadiran Angkuy (Angggung Suherman) dan Nobie (Ryan Adzani), dua musisi elektronik yang tergabung dalam kelompok musik Bottlesmoker. Dua musisi yang mendapat penghargaan dalam kompetisi band indie Asia Pasifik pada tahun 2010 itu penuh semangat mengikuti kegiatan peringatan Hari Primata Indonesia yang berlangsung di Taman Cikapayang-Dago, Bandung (30/1/2014). Bahkan, keduanya juga mengajak seniman pantomim Bandung Wanggi untuk tampil menyemarakkan Peringatan Hari Primata di Bandung.

Angkuy memaparkan kepedulian Bottlesmoker pada nasib primata Indonesia berawal dari proyek video art tentang topeng monyet di Bandung yang mereka garap tahun lalu. Video art ini merupakan hasil kolaborasi dengan Pok Long Hanading, seniman asal Manila, menggambarkan situasi perbudakan primata demi kepentingan komersial. 

"Kami bikin video art gerakan-gerakan monyet yang sedang dijadikan budak oleh  manusia. Dalam riset karya itu, Kami sempet tau secara langsung dari orang yang menggunakan monyet untuk konsumsi publik bahwa dilatihnya secara kasar, dipaksa. Dari situ Kami concern tentang topeng monyet dan penampilan (komersial) primata lainnya," papar Angkuy.

Video art ini kemudian ditampilkan dalam pameran seni bersama yang berlangsung di Selasar Soenaryo-Bandung di akhir tahun 2013. Sambutan meriah pun diraih keduanya, apalagi saat itu topeng monyet tengah menjadi perdebatan panas setelah Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dan Walikota Bandung Ridwan Kamil melarang penampilan topeng monyet di DKI Jakarta dan Kota Bandung.

Keduanya mengaku setuju dengan strategi penyelamatan primata yang digagas ProFauna.  Kesadaran terhadap penyelamatan primata di Indonesia yang dibangun secara bertahap, dinilai memudahkan proses penyadaran di masyarakat.

"Beberapa minggu lalu baca artikel tentang 20%-25% jenis primata dunia itu ada di Indonesia. Itu selayaknya jadi kebanggaan kita. Tapi ada informasi bahwa jumlah populasinya sudah mengkhawatirkan. Makanya kita perlu segera bergerak," lanjut Angkuy.

Selipkan Kampanye Lingkungan dalam Karya Seni

Bottlesmoker yang berdiri tahun 2005 itu menganggap kepedulian terhadap satwa tidak terbatas pada primata. Hobi travelling yang selama ini mereka lakukan, membuka mata mereka tentang pentingnya menyelamatkan satwa dari ancaman komersialisasi berkedok wisata.

"Perkenalan dengan alam pertama kami travelling ke Ujung Genteng, ada semacam penangkaran tukik. Kita ngerasa ini kayak semacam kebohongan. Masa pelepasannya rame-rame gitu lalu dihore-hore gitu. Saat itu kita sempet posting di media social kalo ini kok kayaknya rekayasa, hanya untuk komersialisasi wisata," Angkuy menjelaskan.

Secara pribadi, keduanya mengaku, pengalaman tersebut memberikan motivasi untuk menunjukkan kepedulian terhadap satwa melalui karya seni. Meskipun belum menghasilkan karya seni musik yang bertemakan alam dan kampanye penyelamatan satwa, Nobie dan Angkuy berniat menyelipkan idealisme tersebut dalam karya mereka.

"Kami ingin berbagi pengalaman bahwa hal ini (komersialisasi primata)  gak benar, kayak isu primata ini kita bikin video kayak kemarin itu. Rencana untuk lagu ke depan mungkin juga, Tahun ini kami punya rencana untuk perform atau tampil dalam karya kita dengan latar belakang tempat-tempat yang terlupakan orang-orang seperti bangunan-bangunan tua yang ditelantarkan, mungkin area konservasi juga bisa menjadi salah satu alternative ide kreatif kita, disambungkan dengan misi lingkungan kita," jelas Nobie.

© 2003 - 2021 ProFauna Indonesia

ProFauna Indonesia (Temukan kami di Google+) adalah lembaga independen non profit berjaringan internasional
yang bergerak dibidang perlindungan dan pelestarian satwa liar dan habitatnya.