PROFAUNA Blokade Kantor Kementrian Kehutanan untuk Tolak Tambang di Wehea Kaltim

Sejumlah aktivis Protection of Forest & Fauna (PROFAUNA) melakukan demo di depan gedung Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta dengan merantai dirinya di depan pintu masuk gedung pada hari Kamis (16/4/2015). Aksi nekat aktivis lingkungan itu sebagai wujud protes atas terancamnya kelestarian hutan Wehea, di Kabupaten Kutai Timur, Kaltim oleh pertambangan dan perkebunan sawit.

PROFAUNA yang mendampingi Lembaga Adat Wehea Desa Nehas Liah Bing sejak tahun 2014 dalam mengelola Hutan Lindung Wehea seluas 38.000 hektar itu memandang pemerintah pusat perlu turut campur dalam menyelamatkan hutan Wehea.

Saat ini wilayah adat Dayak Wehea terancam kerusakan lingkungan yang luar biasa. Alih fungsi hutan menjadi HPH, pertambangan dan perkebunan sawit secara besar-besaran, telah mengancam masa depan lingkungan yang sehat bagi masyarakat adat Dayak Wehea. Padahal masyarakat adat Wehea selama ini menjadikan hutan sebagai sumber kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya.

"PROFAUNA dan masyarakat adat Dayak Wehea mendesak pemerintah untuk tidak memberikan izin baru bagi usaha pertambangan, HPH dan perkebunan sawit", tegas Bayu Sandi, koordinator PROFAUNA Borneo.

Pantauan PROFAUNA, ada beberapa perusahaan tambang yang beroperasi di Kecamatan Muara Wahau dan Kecamatan Kombeng, Kabupaten Kutai Timur, antara lain PT Tekno Orbit Persada (TOP) dan PT Med Coal. Sebelumnya pada tanggal 3 Februari 2015, Dewan Adat Wehea telah menyampaikan aspirasinya ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menolak adanya usaha pertambangan di wilayah ulayat Dayak Wehea.

Hutan lindung Wehea sangat penting bagian kelestarian keragaman spesies. Hingga saat ini telah teridentifikasi 61 spesies mamalia atau 27 % dari mamalia yang ada di Kalimantan atau 35 % dari mamalia di Kalimantan Timur, berasal dari 9 ordo dan 22 famili. Beberapa mamalia langka yang tinggal di Hutan Wehea itu antara lain orangutan (Pongo pygmaeus), Macan Dahan (Neofelis diardi), Kucing Batu (Pardofelis marmorata), Kucing Merah(Pardofelis Badia) dan beruang madu (Helarctos malayanus).

Selain mamalia, Hutan Lindung Wehea juga menjadi habitat sedikitnya 114 jenis burung dan 18 jenis kelelawar. Selain itu juga sudah teridentifikasi sedikitnya 59 jenis pohon bernilai ekonomi yang ada di Hutan Lindung Wehea.

"Melihat fungsi ekologi, sosial dan keragaman hayati yang begitu tinggi hutan di Wehea, PROFAUNA mendukung masyarakat adat untuk menolak izin baru usaha pertambangan, HPH dan sawit", tegas Bayu. PROFAUNA yang dikenal dengan organisasi berbasis massa yang kuat itu juga meminta pemerintah meninjau ulang izin tambang yang sudah diterbitkan.

Video tentang kampanye Wehea ini bisa dilihat di: https://www.youtube.com/watch?v=ogBB2RdFqZ0

Informasi lebih lanjut:

Bayu Sandi (Koordinator PROFAUNA Borneo)

Hp. 085755067691, 082233606482, Email: bayu@profauna.net

© 2003 - 2019 ProFauna Indonesia

ProFauna Indonesia (Temukan kami di Google+) adalah lembaga independen non profit berjaringan internasional
yang bergerak dibidang perlindungan dan pelestarian satwa liar dan habitatnya.