Pemerintah Daerah dan Aparat Penegak Hukum di Maluku Utara Nyatakan Komitmen untuk Melindungi Burung Nuri dan Kakatua

Protection of Forest & Fauna (PROFAUNA) Indonesia menggelar acara Rapat Koordinasi Perlindungan Nuri & Kakatua di Ternate, Kamis (30/3/2017). Acara ini dihadiri oleh sekitar 40 orang perwakilan dari berbagai pihak meliputi aparat pemerintah, kepolisian, militer, tokoh adat, hingga tokoh pemuda.

"Burung paruh bengkok  yang menjadi ikon Maluku Utara semakin terancam kondisinya karena banyak diburu,diselundupkan, dan dijual. Butuh koordinasi dari berbagai pihak terkait untuk melindungi burung-burung endemic seperti kakatua putih dan kasturi ternate, maka PROFAUNA memandang sangat mendesak untuk mengadakan acara ini", kata Ekawaty Ka'aba, Koordinator PROFAUNA Maluku Utara.

Acara dibuka dengan pemutaran film dokumenter terbaru produksi PROFAUNA yang berjudul 'Burung Kita: Suara untuk Burung Maluku Utara'. Dalam film dokumenter singkat ini ditampilkan himbauan dari beragam tokoh masyarakat, pemerintah, dan pemuka agama agar masyarakat tidak menangkap dan memelihara burung Nuri dan Kakatua.

Ada empat pembicara yang terbagi dalamdua sesi presentasi dan diskusi panel dalam acara ini yaitu H. Samsu,S.E.,M.Si, staff Dinas Kehutanan Provinsi Maluku Utara yang  berbicara tentang kondisi kehutanan Maluku Utara pada saat ini beserta ancamannya, kemudian disusul oleh Lilian Komaling,S.Hut selaku kepala SKW I BKSDA Maluku Utara yang berbagi informasi tentang penindakan hukum terkait burung nuri & kakatua di Maluku Utara pada tahun 2016.

Sesi presentasi panel kedua diisi oleh Ria Saryanthi dari Burung Indonesia yang membawakan materi tentang status, distribusi, dan ancaman burung nuri & kakatua. Sebagai pembicara terakhir yang mewakili PROFAUNA Indonesia adalah Ekawaty Ka'aba yang mempresentasikan hasil investigasi terbaru PROFAUNA di kawasan Kabupaten Halmahera Selatan terkait perburuan dan perdagangan kakatua putih dan kasturi ternate.

Setelah persentasi dari narasumber, dilanjutkan dengan iskusi berlansgugn dengan hangat. Peserta rapat penuh antusias menyampaikan tanggapan, pertanyaan, hingga ide yang berkaitan dengan materi presentasi.

"Kami semua yang hadir di sini mengapresiasi upaya PROFAUNA yang telah mewadahi kami dalam forum ini, karena jika tidak begini mungkin akan sulit sekali bagi kami semua yang bekerja di berbagai institusi berbeda ini bisa berkumpul dan mendiskusikan masalah nuri dan kakatua", ungkap Radwan,S.H., petugas dari Taman Nasional Aketajawe-Lolobata.

Semua peserta sangat antusias mengikuti jalannya rapatkoordinasi dari awal sampai akhir, karena forum semacam ini memang baru pertama kali digelar di Maluku Utara. Tak hanya aparat pemerinta, aparat hukum, dan tokoh masyarakat saja, awak media ternyata juga menaruh perhatian pada acara ini, salah satunya adalah Gamalama TV yang merupakan saluran televisi lokal terbesar di Maluku Utara. Tak hanya meliput acara, jurnalis Gamalama TV pun turut berpartisipasi dalam forum diskusi.

"Memang isu ini belum dianggap penting bagi sebagian besar media di Maluku Utara. barujika ada kasus baru dimuat di media cetak atau TV lokal," ujar Achmad Pical dari Gamalama TV. 

Achmad Pical melanjutkan bahwa Gamalama TV bersedia jika PROFAUNA atau lembaga lain berkenan mengisi program di Gamalama TV untuk mengedukasi masyarakat tentang pelestarian burung nuri dan kakatua.

Sesi ketiga dan terakhir adalah roundtable discussion yang dimoderatori oleh Burung Indonesia, dimana seluruh hadirin dipersilakan menyampaikan pendapat dan ide konkrit yang dapat diimplementasikan di masa depan bagi upaya pelestarian burung nuri dan kakatua di Maluku Utara.

"Koordinasi dan sinergi memang penting, dan harus kita bangun mulai dari saat ini", tegas Hanis Aldian, perwakilan dari TNI AL.

"Selain kita bergerak diinstitusi masing-masing dan memperkuat koordinasi, jangan lupa bahwa sebagai individu kita juga harus bergerak melakukan sesuatu," tambah Winarni Savitri, anggota DPRD Provinsi Maluku Utara, yang kebetulan juga merupakan permaisuri Kesultanan Bacan.

Instansi yang hadir dalam pertemuan ang diadakan oleh PROFAUNA Indoensia dengan dukungan dari Burung Indonesi dan CEPF ini sangat beragam. Perwakilan institusi lain yang hadir antara lain dari KPP Bea Cukai Ternate, Pengadilan Negeri Ternate, Polres Ternate, Pemerintah Kota Tidore Kepulauan, Pemerintah Kota Ternate, Balai GAKKUM KLHK Seksi II Maluku, KPH Ternate-Tidore,dan komunita pengamat burung Maluku Utara.

"Secara garis besar seluruh peserta rapat koordinasi sepakat untuk memperkuat koordinasi dan sinergi antar institusi guna meningkatkan perlindungan terhadap burung Nuri dan Kakatua di Maluku Utara," pungkas Swasti Prawidya Mukti, juru kampanye PROFAUNA

© 2003 - 2017 ProFauna Indonesia

ProFauna Indonesia (Temukan kami di Google+) adalah lembaga independen non profit berjaringan internasional
yang bergerak dibidang perlindungan dan pelestarian satwa liar dan habitatnya.