Pembunuh Primata Adalah Orang Sakit Jiwa

BANDUNG, KabarKampus - Kegiatan berburu primata tengah marak dalam tiga tahun terakhir. Hal itu terlihat dari banyaknya kegiatan berburu primata yang kemudian foto-fotonya dibagikan di media sosial.

Bagi Rinda Aunilah Sirait, koordinator Profauna Jawa Barat, prilaku kekejaman terhadap primata yang akhir-akhir ini terjadi menunjukkan kalau si pelaku adalah orang yang sakit jiwa. Karena bila dikatakan orang tersebut tidak tahu informasi, tapi bisa mengakses internet. Sementara kalau dikatakan bodoh, namun pelakunya ada dari kalangan dosen.

"Artinya dia tidak punya hati dan sakit jiwa,"kata Rinda dalam aksi peringatan Hari Primata Indonesia di Alun-alun Kota Bandung, Sabtu, (30/01/2016).

Menurut Rinda, karena pengguna internet, dipastikan bisa mengakses informasi dan mengetahui primata. Begitu juga seorang dosen, dia pasti punya sensifitas terhadap semua makhluk.

"Jadi konyol kalau disebut ini persoalan tidak tahu informasi dan faktor pendidikan," ungkapnya.

Selain itu kata Rinda, saat ini fenomena berburu juga tidak hanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun untuk kesenangan saja. Begitu juga dengan masyarakat yang memelihara primata. Kalau sebelumnya adalah para pejabat yang memelihara primata, sekarang anak muda sudah ikut memelihara.

"Karena bertambah maraknya kegiatan berburu dan perdagangan primata di Indonesia, saat ini lebih dari 70 persen primata Indonesia terancam punah," tutur dosen Unpad ini.

Sumber: kabarkampus.com

© 2003 - 2021 ProFauna Indonesia

ProFauna Indonesia (Temukan kami di Google+) adalah lembaga independen non profit berjaringan internasional
yang bergerak dibidang perlindungan dan pelestarian satwa liar dan habitatnya.