Pelajaran dari Armenia untuk Kelestarian Alam dan Budaya Bali

Oleh:  Agni Alam Awirya (Pemerhati masalah sosial dan Suporter Profauna di Bali)

Kisah berikut ini adalah mengenai danau yang sangat terkenal di Armenia bernama Danau Sevan. Saat Uni Soviet berkuasa, pemerintah membuat sebuah proyek prestisius dengan mengalirkan air Danau Sevan ke daerah pertanian Ararat dan ke pembangkit listrik. Proyek ini dimulai pada tahun 1933. Air dialirkan dari Danau Sevan menuju Sungai Hrazdan yang tentu saja mengurangi ketinggian Danau Sevan hingga sekitar 18 meter dan volume air juga berurang dari 58,5 miliar kubik meter menjadi 34 miliar kubik meter saja.

Sejalan dengan kemerdekaan Armenia tahun 1990, upaya memperbaiki kembali Danau Sevan dimulai. Upaya ini penting mengingat Danau Sevan adalah sumber segala inspirasi masyarakat Armenia. Hampir semua puisi, semua lagu maupun semua lukisan melibatkan Danau Sevan.

Proyek rehabilitasi ini mengikutsertakan masyarakat Armenia termasuk para diaspora yang terebar diseluruh dunia. Satu hal yang menarik adalah bahwa bukanlah kebetulan apabila setiap orang Armenia akan memiliki nama dengan akhiran ian. Hal ini mempermudah petugas mendapatkan diaspora Armenia di seluruh dunia.

Upaya melibatkan masyarakat Armenia di seluruh dunia menunjukkan fenomena yang luar biasa. Penelitian Benoit Laplante, Craig Meisner dan Hua Wang yang dipublikasikan tahun 2005 menunjukkan bahwa kesediaan memberikan sumbangan dari masyarakat Armenia di Amerika Serikat mencapai  nilai maksimal 108 juta dollar. Apabila ditambahkan dengan diaspora Armenia di Eropa Barat maka sumbangan ini akan melebihi kekurangan upaya proteksi Danau Sevan yang mencapai nilai maksimal 147 juta dollar.

Refleksi bagi Bali

Kisah di atas sering menghiasi perkuliahan mata kuliah ekonomi lingkungan memberikan pelajaran sangat baik dan dapat dimplementasikan di wilayah lainnya. Apabila Danau Sevan menjadi peninggalan bersejarah (cultural heritage) bagi masyarakat Armenia, demikian pula Pulau Bali. Sebagai daerah tujuan wisata utama di Indonesia, Bali memiliki keunikan budaya serta kelestarian dan keindahan alam yang diakui seluruh dunia. Pengakuan dunia tersebut antara lain sistem subak pada tahun 2012, kawasan Geopark Dunia bagi Gunung Batur dan pengakuan Pulau Bali sebagai salah satu destinasi wisata terbaik dunia oleh berbagai media internasional.  Bali juga merupakan tempat tinggal bagi Jalak Bali, burung ikonik yang keindahannya diakui di seluruh dunia.

Sayangnya,kelestarian alam dan keunikan budaya Bali tersebut lambat laun mengalami degradasi. Subak mulai terpinggirkan seiring maraknya alih fungsi lahan pertanian. Mengutip pakar pertanian Prof. I Wayan Windia di publikasi online Radio Australia, "Pajak tanah di Bali sangat tinggi. Kalau ada satu saja Hotel di kawasan Subak itu, maka pajaknya bisa naik 1000% dan petani tidak mampu membayarnya. Makanya banyak yang melepaskan areal sawah mereka kepada investor pariwisata."

Lunturnya budaya Bali juga terlihat pada berbagai keprihatinan masyarakat yang telah dituangkan dalam berbagai tulisan. Luh Kitty K dalam tulisannya di Bali Post pada April 2011 menyampaikan bahwa masyarakat Bali sebagai pemilik budaya Bali sudah mulai terpinggirkan akibat maraknya kegiatan pariwisata.

Bali Post dalam terbitannya pada Juni 2004 juga telah merangkum keprihatinan berbagai pakar dari Bali mengenai kondisi Bali yang semakin memprihatinkan. Prof. LK Suryani pernah menyampaikan dalam suatu forum bahwa Bali sedang menuju Betawi II. Drs. I Wayan Geriya menyampaikan dengan tegas dalam suatu diskusi bahwa dalam semua kajian teoritis, tidak ada peradaban yang mampu bertahan ketika pendukungnya sudah makin berkurang.   Sebagaimana Danau Sevan pada masa Uni Sovyet berkuasa, apakah Bali sedang menuju kemundurannya? Jika masyarakat Armenia peduli terhadap Danau Sevan yang menjadi sumber inspirasinya, apakah masyarakat Bali juga peduli terhadap budayanya dan kelestarian alamnya?

Pelajaran dari Rehabilitasi Danau Sevan

Kita dapat mengambil pelajaran dari proses rehabilitasi Danau Sevan di Armenia dengan melibatkan masyarakat baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Studi yang melibatkan masyarakat Bali baik di dalam maupun luar Pulau Bali dapat menjadi langkah awal upaya pelestarian alam dan budaya Bali. Selain dapat meningkatkan rasa kecintaan masyarakat Bali kepada Pulau Bali dan budaya yang melekat di dalamnya, upaya ini juga dapat menjadi refleksi seberapa pedulikah masyarakat Bali pada akar budaya berserta daya dukung lingkungannya.

Keterlibatan dan kepedulian masyarakat diwujudkan dalam donasi uang guna memberikan dana bagi kegiatan pelestarian alam dan budaya Bali. Kegiatan tersebut  temasuk mempertahankan lahan pertanian, menjaga kelestarian lingkuangan termasuk hutan yang menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati sekaligus mempertahankan budaya Bali yang sangat menjunjung tinggi keseimbangan alam. Donasi ini dalam ekonomi lingkungan dikenal sebagai "Willingness to Pay".  Donasi uang ini pada dasarnya merupakan representasi dari keseriusan masyarakat Bali sehingga kepedulian tersebut tidak hanya menjadi "Omong Doang" saja. Lembaga pengelola donasi tersebut juga berdasarkan aspirasi masyarakat yang terlibat dalam studi tersebut.

Sebagaimana masyarakat Armenia yang mempunyai nama berakhir ian, tentunya tidak sulit mencari Wayan, Made, Nyoman maupun Ketut di seluruh Indonesia bahkan di luar negeri. Mudah-mudahan lunturnya budaya Bali belum merangsek hingga pemberian nama bagi masyarakat Bali. Dengan demikian proses melibatkan masyarakat Bali yang lebih luas dalam upaya menjaga kelestarian budaya Bali relatif lebih mudah dilakukan.

Hasil dari studi ini dapat digunakan sebagai landasan pertimbangan dalam uji kelayakan proyek maupun investasi di Bali yang memiliki resiko mendesak budaya Bali beserta daya dukung lingkungannya. Donasi masyarakat Bali yang terkumpul juga dapat memperkuat posisi tawar masyarakat Bali dalam menjaga kelestarian budaya dan lingkungannya.

Sebagai bagian akhir dari tulisan ini, penulis berharap adanya langkah konkrit upaya melestarikan budaya Bali yang tidak hanya bertumpu pada pemerintah saja.  Keterlibatan masyarakat juga menjadi syarat keberhasilan upaya pelestarian tersebut. Apalagi jika seluruh lukisan, lagu, puisi dan patung-patung menyandarkan inspirasinya pada budaya dan alam Bali yang lestari.  Jika bukan kita yang peduli, lalu siapa lagi?

© 2003 - 2019 ProFauna Indonesia

ProFauna Indonesia (Temukan kami di Google+) adalah lembaga independen non profit berjaringan internasional
yang bergerak dibidang perlindungan dan pelestarian satwa liar dan habitatnya.