Kuliah di Jurusan Profauna sebagai Aktivis Abadi

Oleh: Kinanti Wicaksono, aktivis Profauna di Jakarta

Mungkin bagi sebagian orang Profauna hanyalah nama salah satu LSM di Indonesia. Namun, bagi saya Profauna bukan sekadar LSM lingkungan biasa. Profauna is not'just another NGO'. Profauna adalah sumber inspirasi, motivasi, wujud keteguhan tekad dan mimpi.

Profauna adalah kampus tempat saya menuntut ilmu dan membina ketulusan persahabatan dengan para anggotanya. Mungkin Anda menganggap pernyataan saya sedikit berlebihan, tetapi percayalah, sejak saya menjadi 'mahasiswa Profauna' angkatan 2004, saya banyak belajar dan hidup saya banyak berubah.

Saya tak akan pernah lupa 'kuliah perdana' yang saya hadiri di kantorProfauna di bilanganFatmawati, Jakarta Selatan. Seolah bertemu keluarga yang lama tak jumpa, saya sama sekali tidak merasa asing. Kebersamaan, kesederhanaan, dan idealisme yang mewarnai suasana ruangan hari itu membuat saya yakin bahwa saya telah menemukan kawan-kawan perjuangan sepanjang masa.

Selang tak berapa lama, saya memutuskan untuk ikut Profauna Camp 2005. Menempuh perjalanan Jakarta-Malang dengan mobil bersama Mas Suparno dan kawan-kawan Profauna Jakarta: Risky, Aldila, Aven, dan Dela. Menyusuri pantai utara PulauJawa, berbekal sebakul nasi putih yang kami minta untuk 'digorengkan' oleh seorang penjaja nasi goreng kaki lima, beristirahat dan mencuci muka di surau-surau kecil, dan singgah untuk melihat keindahan Sungai Brantas. Ah, kenangan yang tak akan terlupakan!

Di Profauna Camp tahun 2005 saya banyak belajar dari pemaparan aktivis-aktivis senior Profauna. Rasa kagum sekaligus haru menyelimuti jiwa ini. Tekad, mimpi, dan konsistensi perjuangan Profauna untuk satwa liar yang sungguh tak tergoyahkan dengan apapun.

Saya ingin terlibat. Saya ingin membantu. Saya ingin berbagi. Karena saya peduli. Saya pun mulaiberpartisipasi dalam sejumlah aksi demonstrasi di Jakarta dan mengunjungi sekolah-sekolah(school visit) untuk memberi pengenalan tentang persoalan konservasi satwa, meski itu berarti harus mengambil 'jatah bolos' kuliah resmi saya di kampus.

Hubungan Profauna dan status saya sebagai mahasiswa boleh dibilang cukup unik. Saya kuliah di jurusan ilmu hubungan internasional. Persoalan yang dibahas di kelas seputar kedaulatan negara, kajian strategi, diplomasi, dan ekonomi politik internasional.

Namun, entah kenapa pikiran ini selalu saja melayang ke Profauna dan nasib satwa di Indonesia. Apapun yang dibahas di ruang kuliah, makalah akhir saya tetap menganalisis soal lingkungan, satwa, dan Profauna.

Untung saja diizinkan oleh kampus. Hingga akhirnya skripsi saya pun mengangkat studi tentang Profauna. Sampai ada teman saya yang bertanya sesaat setelah usai siding skripsi, "Kamu itu selama empat tahun ini sebenarnya kuliah di jurusan apa sih?" Saya hanya bisatersenyum. Ya, boleh dibilang saya memang kuliah di Jurusan Profauna!

Tidak berlebihan rasanya jika mengatakan saya kuliah Profauna karena memang sejak tahun pertama sebagai mahasiswa saya sudah bergabung menjadi anggota, dan pada tahun terakhir kuliah saya pun menyambi kerja sebagai International Representative Profauna selama satu tahun dari 2006-2007. Selama masa ini, saya belajar banyak dari Mas Rosek dan para staf Profauna sambil mempraktekkan langsung ilmu diplomasi dalam hubungan antar-LSM satwa global.

Dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan pun, pikiran saya selalu kembali ke Profauna. Apakah itu kegiatan himpunan mahasiswa, kegiatan ASEAN bahkan dalam kegiatan saya sebagai pemuda pertukaran ke Australia, saya selalu melibatkan Profauna karena pikiran saya pasti kembali melulu ke Profauna dan berujung pangkal pada keinginan untuk melindungi satwa. Mungkin ini yang namanya jatuh cinta, tetapi jatuh cintanya dengan Profauna.

Setelah lulus, saya sempat bekerja di beberapa perusahaan dan bank asing. Mencari pengalaman (dan penghasilan) adalah motivasi saya waktuitu. Yah, namanya juga sarjana baru. Namun,tak membutuhkan waktu lama bagi saya untuk menyadari kalau yang didapat dari kerja di korporasi hanyalah angka nominal yang tercetak di buku rekening setiap bulannya. Kepuasan, kesenangan, dan semangat hilang sirna dari keseharian saya. Hampa jiwa ini dan rindu rasanya ingin segera kembali menjadi aktivis Profauna!

Sejak saat itu, saya yakin bahwa menjadi aktivis tidak boleh terbatas ruang dan waktu. Ini komitmen seumur hidup dengan diri sendiri. Aktivis tidak identik dengan mahasiswa saja.

Setelah lulus pun harus tetap menjadi aktivis, setelah menikah dan berkeluarga pun harus tetap menjadi aktivis, hingga nanti sudahtua dan pensiun pun harus tetap menjadi aktivis.

Tentu porsi yang dapat disumbangkan oleh mereka yang masih muda, sudah berkeluarga, dan lanjut usia berbeda-beda, tergantung situasi dan kondisi masing-masing. Namun, yang tidak boleh hilang adalah semangat untuk berbuat, semangat untuk bergerak, dan semangat untuk terus berkarya demi kelestarian lingkungan dan kehidupan satwa yang lebih baik.

Kini, genap sepuluh tahun sejak saya diterima menjadi 'mahasiswa Profauna'dan saya bangga mengatakan bahwa saya masih belum lulus. Artinya saya masih melibatkan Profauna secara aktif dalam hati dan pikiransaya.

Meski kini sudah berkeluarga dan memiliki dua orang anak, saya tetap berusaha untuk berkontribusi sekecil apapun itu.

Tidak ada yang namanya 'kelulusan' sebagai aktivis, tidak ada yang namanya 'mantan aktivis', yang ada justru adalah aktivis abadi. Inilah nilai yang saya dapatkan dari Profauna. Menjadi aktivis adalah sebuah pilihan, keyakinan, dan jalan hidup, maka perjuangan ini takkan terhenti sepanjang usia.

Terus belajar, terus berjuang, terus berkarya demi kelestarian alam di bumi ini!

Dirgahayu Profauna!

© 2003 - 2019 ProFauna Indonesia

ProFauna Indonesia (Temukan kami di Google+) adalah lembaga independen non profit berjaringan internasional
yang bergerak dibidang perlindungan dan pelestarian satwa liar dan habitatnya.