Kisah Penjaga Hutan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang

Asap tebal membumbung, menutup pekat pandangan mata empat orang yang terlihat sibuk memadamkan kobaran api yang menghanguskan semak, rumput dan pohon. Berkali-kali orang tersebut batuk dan menyeka keringat yang deras mengucur. Sesak nafas dan panasnya udara yang menyengat menjadi tantangan berat bagi pemadam kebakaran itu.

Mereka adalah tim yang diterjunkan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur untuk memadamkan kebakaran lahan di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Dataran Tinggi Yang pada tahun 2015. Dua diantara mereka adalah tenaga honorer yang selama bertahun-tahun mengabdi untuk menjaga kelestarian SM Dataran Tinggi Yang. Dua orang itu adalah Samhaji dan Bahri.

Samhaji (34 tahun) yang lahir di Desa Baderan, Kecamatan Sumbermalang, Kabupaten Situbondo itu membantu resort KSDA Baderan sejak tahun 2010. Bagi para pendaki Gunung Argopuro,nama Samhaji tiidaklah asing, karena dia sering menjadi pemandu dan juga mengurus administrasi perizinan pendakian yang lewat Desa Baderan.

Samhaji yang lulusan SD itu menjadi andalan BKSDA Jawa Timur terkait pengelolaan SM Dataran Tinggi. Ketika terjadi kebakaran hutan, pencurian kayu, patroli, pengecekan tanpal batas atau mengurus pendaki, Samhaji adalah orang yang berada di barisan terdepan untuk mengurus hal-hal itu.

Sementara itu Bahri yang lahir pada tahun 1980 di Desa Baderan itu lebih lama lagi bersinggungan dengan BKSDA. Sejak tahun 2001 dia sudah sering membantu pekerjaan BKSDA di lapangan dalam pengelolaan SM Dataran Tinggi Yang.

Samhaji dan Bahri adalah dua orang yang sangat mengenal SM Dataran Tinggi Yang, karena mereka lahir dan tumbuh di Desa Baderan, sebuah desa yang dekat dengan kawasan konservasi alam itu. Sejak kecil, Samhaji dan Bahri sudah diajak orang tuanya keluar masuk hutan di SM Dataran Tinggi Yang untuk mencari tanaman obat.

Minimnya Jumlah Petugas

SM Dataran Tinggi Yang seluas lebih dari 14.000 ha yang berada di empat kabupaten yaitu Probolinggo, Sitobondo, Jember dan Bondowoso itu hanya dijaga oleh 4 orang polisi hutan. Dua diantaranya berjaga di resort Baderan karena desa ini menjadi pintu masuk utama pendakian ke Gunung Argopuro.

Dua orang yang bertugas di Baderan itu adalah Susiono dan Samhaji. Jika Susiono berstatus PNS, Samhaji adalah petugas honorer, sama halnya dengan Bahri. Bedanya, jika honor Samhaji dibayar oleh BKSDA, sedangkan Bahri dibayar oleh PROFAUNA Indonesia.

PROFAUNA, sebuah organiasi perlindungan hutan dan sawa liar itu mendukung pengelolaan SM Dataran Tinggi Yang bukan baru-baru ini saja. Pada tahun 2004 dan 2007, PROFAUNA bersama BKSDA melepas puluhan satwa liar hasil rehabilitasi. Tak heran jika PROFAUNA punya ikatan emosi dengan SM Dataran Tinggi Yang.

Dengan minimnya jumlah petugas itu, membuat posisi Samhaji dan Bahri sangat penting dalam menjaga kelestarian SM Dataran Tinggi Yang. Merekalah petugas di lapangan yang selalu ada di tempat, karena memang mereka tinggal di Desa Baderan.

Meski dengan fasilitas terbatas dan hoonor yang tidak besar, kedua orang tersebut penuh semangat bekerja. Kejujuran Samhaji juga seringkali diuji, karena ketika Susiono tidak berada di kantor resor KSDA Baderan, maka Samhajilah yang memegang uang tiket masuk SM Dataran Tinggi Yang. Jumlahnya bisa mencapai puluhan juta rupiah.

"Meskipun sering honor saya terlambat, namun saya tetap bertugas, karena siapa lagi yang membantu bapak (Susionoi) jika bukan saya", kata Samhaji.

Kepala Resor KSDA Desa Baderan Susiono yang sudah bekerja di SM Dataran Tinggi Yang lebih dari 10 tahun mengatakan, "kehadiran petugas lapangan seperti Samhaji dan Bahri ini jelas sangat membantu tugas KSDA di SM Dataran Tinggi Yang, karena memang jumlah personil kami sangat terbatas".

Diancam Dibunuh

Pekerjaan Samhaji dan Bahri bukannya tidak beresiko. Menjaga SM Dataran Tinggi yang kaya akan satwa liar dan hutan yang masih bagus membuat rawan terjadinya pencurian kayu dan perburuan satwa liar.

Pada tahun 2011 Samhaji bersama petugas BKSDA Jatim lainnya melakukan operasi untuk menangkap basah pencuri kayu yang waktu itu sedang marak. Hasil dari operasi selama beberapa hari itu dua orang tertangkap dan berhasil digiring ke bui setelah melalui proses persidangan.

Penangkapan pencuri kayu itu tidak berjalan mulus. Petugas harus kejar-kejaran dengan pelaku dan menghadapi perlawanan pencuri yang bersenjatakan parang dan kapak.

"Waktu saya mengejar maling kayu, mereka melawan dengan parang, tapi untungnya kemudian bisa ditangkap", kata Samhaji yang mempuyai satu putra itu.

Samhaji dan Bahri selain dikenal dengan fisiknya yang kuat, kedua orang ini juga pemberani. Hidup yang keras dan lingkungan desa yang serba terbatas, membentuk mereka menjadi pemberani dan tidak cengeng.

"Saya juga pernah diancam akan dibunuh oleh pemburu satwa, karena kami sering menggagalkan upaya perburuan satwa liar di SM Dataran Tinggi Yang", kenang Samhaji.

Di tahun 2015 dengan dukungan PROFAUNA, Samhaji dan Bahri menggagalkan penangkapan burung-burung berkicau di kawasan SM Dataran Tinggi Yang yang menjadi habitat merak dan lutung jawa itu. Dengan pendekatan kekeluargaan, penangkap burung itu dibina agar tidak menangkap satwa liar lagi.

"Salah satu tantangan bagi petugas di SM Yang ini adalah ketika menghadapi pemburu satwa liar yang bersenjata, sementara petugas sama sekali tidak dibekali senjata. Jadi kami harus pandai-pandai dalam melakukan pendekatan", kata Samhaji.

"Kami juga terima kasih kepada PROFAUNA yang telah menyumbang pesawat HT, sehingga komunikasi kami di lapangan bisa lebih lancar", tambah suami dari Supriyanatun Hasanah itu.

Edukasi ke Masyarakat Lokal

Kegiatan Bahri bukan hanya sekedar membantu petugas BKSDA di lapangan, tapi juga terlibat dalam kegiatan edukasi ke masyarakat lokal yang dilakukan oleh PROFAUNA. Bahri yang berpendidikan formal hanya sampai SD itu sedikit demi sedikit belajar tentang konservasi alam dengan mengikuti kegiatan edukasi PROFAUNA.

"Survey PROFAUNA pada awal tahun 2016 itu menunjukan masyarakat desa sekitar kawasan SM Dataran Tinggi Yang masih rendah pengetahuannya tentang konservasi alam, sehingga disitulah kenapa PROFAUNA melakukan kegiatan edukasi ke sekolah dan kelompok masyarakat", kata Dwi Derma, juru kampanye PROFAUNA Indonesia.

Program edukasi di desa-desa sekitar SM Dataran Tinggi Yang itu penting dilakukan, karena ini salah satu celah kosong yang belum dilakukan oleh pemerintah. Ketika masyarakat belum pernah diberi tahu soal konservasi alam, maka tidak bisa sepenuhnya kita salahkan mereka ketika mereka melakukan kegiatan yang justru mengancam kelestarian sumber daya alam.

Didukung Relawan PROFAUNA

Beban pekerjaan Samhaji, Bahri dan petugas lapangan di SM Dataran Tinggi Yang sejak tahun 2015 semakin terasa ringan karena kehadiran relawan PROFAUNA. Relawan yang tergabung dalam Ranger PROFAUNA itu langsung terjun ke lapangan membantu KSDA dalam menjaga hutan.

Meskipun para relawan itu tidak dibayar, mereka penuh semangat dan dedikasi turut berpartisipasi menjaga kelestarian SM Dataran Tinggi Yang. Tugas Ranger PROFAUNA ini beragam, mulai dari ikut patroli hutan, mendampingi pendaki, edukasi ke masyarakat dan memasang papan peringatan pelarangan perburuan satwa liar.

"Saya memutuskan berhenti sementara dari pekerjaan saya selama dua bulan untuk mengabdikan diri menjadi ranger PROFAUNA di Desa Baderan", kata Ehsan Nugroho, Ranger PROFAUNA asal Sidoarjo.

Ternyata di negeri ini masih ada banyak orang yang peduli, yang tidak hanya sekedar mengeluh dan protes ketika alam semakin tergerus oleh berbagai kepentingan ekonomi. Daripada mengeluh terus, mereka memilih langsung terjun ke lapangan, turut berpartisiapi dalam menjaga hutan.

Mereka ini pahlawan-pahlawan lingkungan yang tidak terekspos dan tidak gila penghargaan. Meskipun dengan fasiltas seadanya, mereka tetap bekerja dengan tulus. Meskipun itu harus mempertaruhkan nyawa mereka ketika harus berjibaku melawan pemburu satwa dan perambah hutan.

Informasi tentang SM Dataran Tinggi Yang: http://www.profauna.net/id/content/suaka-margasatwa-dataran-tinggi-yang-habitat-penting-satwa-langka#.Vyk7Zfl97IV

© 2003 - 2019 ProFauna Indonesia

ProFauna Indonesia (Temukan kami di Google+) adalah lembaga independen non profit berjaringan internasional
yang bergerak dibidang perlindungan dan pelestarian satwa liar dan habitatnya.