Keragaman Mamalia di Hutan Lindung Wehea

Oleh: Rustam (peneliti dari Lab. Ekologi Satwaliar dan Keragaman Hayati, Fahutan Unmul dan advisory board PROFAUNA)

Sebagai hutan tropis dataran rendah yang relatif masih virgin Hutan Lindung Wehea memiliki keragaman satwa liar yang tinggi. Berdasarkan hasil penelitian dengan berbagai metoda lapangan yang dapat dipertanggungjawabkan, yaitu dengan metoda pengamatan langsung, jejak (jejak kaki, tinggalan bagian tubuh, cakar dll), tangkapan, kamera otomatis (camera trap) dan atau informasi dari ranger, ditemukan berbagai jenis mamalia di Hutan Lindung Wehea.

Data mamalia yang ditampilkan dalam tulisan ini adalah hasil penelitian di dalam Hutan Lindung Wehea dan di dalam konsesi HPH yang berbatasan langsung dengan Hutan Lindung Wehea yang meninggalkan kawasannya sebagai buffer zone dan ditetapkan sebagai kawasan dengan nilai konservasi tinggi (HCVF: high conservation value forest). Data mamalia masih akan terus bertambah karena saat ini sedang berlangsung inventarisasi jenis mamalia dengan camera trap kerjasama antara Lembaga Adat Wehea dengan Icon dalam cakupan yang lebih luas.

Hingga saat ini telah teridentifikasi 61 species mamalia atau 27 % dari mamalia yang ada di Kalimantan atau 35 % dari mamalia di Kalimantan Timur, berasal  dari 9 ordo  dan 22 famili.

Beberapa jenis mamalia yang ditemui di sini terdaftar sebagai species langka dan berstatus konservasi tinggi berdasarkan daftar merah (Red List Data Book) IUCN, yaitu Terancam Punah (Near Threatened) sebanyak 7 jenis, Rentan (Vulnerable) 14 jenis, Genting (Endangered) 4 jenis, dan Kritis (Critically Endangered) 1 jenis. Lima jenis termasuk dalam Appendix I CITES, 11 jenis Appendix II, dan 2 jenis Appendix III, serta 17 jenis masuk daftar mamalia yang dilindungi berdasarkan PP No. 7 tahun 1999.

Ditemukan 4 Jenis Kucing Hutan

Jenis-jenis mamalia yang teridentifikasi adalah jenis yang sangat tergantung dengan kondisi hutan yang masih bagus. Empat jenis kucing hutan (Felidae) yang teridentifikasi dari lima jenis kucing hutan yang ada di Kalimantan menandakan bahwa fungsi ekologis daru Hutan Lindung Wehea masih berjalan dalam koridor yang semestinya.

Famili Felidae merupakan predator tingkat tinggi yang ada di Kalimantan, dengan jenis yang paling besar adalah Macan Dahan (Neofelis diardi). Jenis ini diketahui hanya terbatas berada di hutan tropis alami dengan gangguan minimum, begitu pula dengan jenis Kucing Hutan lain yang dijumpai di sini (Kucing Batu Pardofelis marmorata dan Kucing Merah Pardofelis Badia), kecuali Kucing Kuwuk (Prionailurus bengalensis) yang dalam kasus tertentu masih dapat ditemui di kawasan hutan yang telah terbuka, hutan tanaman dan kebun sawit.

Ditemukan pula 18 jenis kelelawar dengan indikasi habitat pada hutan primer dataran rendah. Dominansi jenis kelelawar yang ditemukan adalah jenis pemakan serangga. Dominansi ini sangat jelas dapat mempengaruhi keseimbangan populasi serangga.

Dapat dibayangkan jika Hutan Lindung Wehea ini rusak, maka akan terjadi ledakan populasi serangga yang sangat drastis, karena kelelawar pemakan serangga tidak lagi berfungsi sebagai predator yang menjadi penyeimbang fungsi ekologis di kawasan ini.

Demikian pula halnya dengan jenis-jenis karnivora yang lain. Ordo karnivora pada nomenklatur mamalia di Kalimantan tidak selalu menandakan bahwa jenis mamalia yang termasuk dalam ordo ini adalah pemakan daging. Ordo karnivora tidak linier dengan kelas makan (trophic level). Beberapa jenis mamalia Kalimantan yang masuk dalam Ordo Carnivora adalah juga pemakan serangga dan buah seperti berbagai jenis musang (Viverridae), dan bahkan juga madu seperti Beruang Madu (Helarctos malayanus). Namun di sinilah fungsi ekologis dapat tercapai dari rangkaian rantai makanan.

Fungsi lain mamalia sebagai penyebar biji tanaman sangat mempengarui keragaman jenis tumbuhan di hutan tropis dataran rendah. Keberadaan hutan alami di Hutan Lindung Wehea merupakan salah satu benteng terakhir pertahanan habitat terbaik di hutan tropis dataran rendah Kalimantan. Keingginan peningkatan ekonomi dengan berbagai program yang dicetuskan pemerintah masih "menganaktirikan" kepentingan ekologis yang secara jangka panjang justru investasi abadi kesejahteraan.

Mengamankan habitat satwa liar jauh lebih baik daripada menjemput paksa penjual satwa liar di pasar gelap dan merehabilitasi satwaliar yang masih hidup. Tapi apakah kita punya pilihan? 

© 2003 - 2019 ProFauna Indonesia

ProFauna Indonesia (Temukan kami di Google+) adalah lembaga independen non profit berjaringan internasional
yang bergerak dibidang perlindungan dan pelestarian satwa liar dan habitatnya.