Inilah Hubungan Mesra Antara Hutan dan Ketersediaan Air

Hutan adalah sumber kehidupan. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, nyatanya hutan telah memberikan banyak manfaat bagi manusia, baik mereka yang tinggal di sekitar hutan, maupun yang tinggal jauh dari hutan. Bagi mereka yang tinggal di sekitar hutan, hasil-hasil hutan seperti buah-buahan, sayuran, dan lain sebagainya, bisa dimanfaatkan sebagai sumber makanan.

Tidak hanya sebagai sumber makanan, akan tetapi juga sumber penghasilan. Contohnya rotan yang bisa dibentuk menjadi berbagai macam kerajinan tangan yang bisa dijual.

Lalu bagaimana dengan masyarakat yang tinggal jauh dari hutan, seperti mereka yang tinggal di perkotaan, apakah mereka mendapatkan manfaat dari keberadaan hutan? Hutan dengan banyak pohon menjadi penyedia kebutuhan oksigen bagi kehidupan di bumi ini. Bukan hanya oksigen, akan tetapi juga sebagai penyedia air bersih.

Menurut data dari Food and Agriculture Organization (FAO), sekitar sepertiga dari kota-kota besar di dunia, seperti Bogota, Tokyo, Barcelona dan New York, sangat bergantung kepada hutan lindung sebagai penyedia air minum bagi sekitar 238 juta penduduk di kota-kota tersebut.

Air bersih merupakan salah satu sumberdaya yang sangat penting bagi kehidupan. Aktivitas manusia sangat tergantung dengan ketersediaan air bersih, mulai dari mandi, mencuci, pertanian, hingga air minum, semua bersumber dari air bersih yang dihasilkan oleh hutan.

Hutan adalah penyedia jasa lingkungan. Salah satu jasa lingkungan yang mampu diberikan oleh hutan adalah pengendalian daur air. Tidak hanya sekedar menyediakan air bersih, akan tetapi juga berperan dalam pengendalian erosi dan banjir. Daun dan ranting pohon  berperan sebagai penghalau dalam proses intersepsi air hujan yang turun ke bumi sehingga dapat mencegah air langsung turun ke tanah.

Seresah yang dihasilkan dari daun-daun tumbuhan yang jatuh ke tanah  berfungsi untuk mengurangi air limpasan di permukaan yang berpotensi menimbulkan banjir. Air limpasan yang semakin besar maka akan membuat air yang terserap atau disimpan di dalam tanah menjadi semakin sedikit.

"Deforestasi secara besar-besaran akan meningkatkan aliran air permukaan yang kemudian mengakibatkan tanah di permukaan yang semakin menipis dan akhirnya meningkatkan sedimen pada badan air", kata Dwi Derma, juru kampanye PROFAUNA.

Sedimentasi itulah yang mengakibatkan air sungai berwarna cokelat sesaat setelah hujan sebagai akibat dari meningkatnya sedimen tanah pada badan air.

Hutan ditebang, air bersih berkurang

Sekarang ini, kita sering dihadapkan pada suatu keadaan dimana ketersediaan air sangat berlimpah saat musim hujan bahkan hingga menyebabkan banjir, akan tetapi saat musim kemarau sungai kering dan air sulit didapat.

Salah satu contoh berkurangnya ketersediaan air bersih akibat hilangnya hutan itu terjadi di Merauke, Papua. Di sana, sumber air bersih semakin mengkhawatirkan. Sungai dan rawa yang selama ini dimanfaatkan sebagai sumber air bersih, semakin menyusut debit airnya sebagai akibat dari alih fungsi hutan di hulu menjadi kebun sawit dan tebu.

Menurut Yosehi Mekiuw, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Musamus (Unimer) Merauke, dikutip dari mongabay.co.id, saat ini kehidupan Suku Yeinan di Kampung Bupul, Kabupaten Merauke, semakin terhimpit. Penebangan hutan telah menghilangkan mata pencarian mereka sebagai pemburu dan peramu hasil hutan. Tidak hanya kehilangan mata pencarian, akan tetapi sumber air bersih mereka juga ikut terancam.

Selama ini pasokan air bersih Suku Yeinan bergantung pada Kali Maro. Sekarang,  dengan semakin maraknya penebangan hutan di hulu daerah aliran sungai (DAS) Kali Maro oleh beberapa perusahaan sawit, kondisi hulu DAS yang dulu sangat bagus menjadi rusak dan menyebabkan suplai air bersih terus menyusut.

Mekiuw menuturkan, "ada yang salah dalam sistem hidrologi di Merauke."

Tidak ada pengolahan lahan, sumur resapan dan tata air. Akibatnya saat musim hujan, Merauke kelimpahan air. Sebaliknya, saat musim kemarau tiba, air seolah-olah hilang dan Merauke mengalami kekeringan dan kesulitan air bersih.

Hutan memiliki kemampuan sebagai regulator air, artinya ia mampu mengatur, menyokong proses alami dan menyediakan air bersih apabila ia dibiarkan tetap alami. Ia mampu menyimpan air di musim hujan dimana ketersediaan air berlimpah, ia juga mampu melepaskan air saat musim kemarau, saat dimana ketersediaan air sangat kurang.

Hutan menjadi satu hal yang sangat vital terhadap persediaan atau pasokan air bersih bagi manusia. Ia mampu menyaring dan membersihkan air lebih baik dan lebih murah daripada sistem yang diciptakan oleh manusia.

Sebuah survey di Amerika Serikat menunjukkan bahwa biaya pengolahan air dalam area dimana daerah aliran sungai (DAS) masih memiliki tutupan hutan sebanyak 60%, adalah setengah dari biaya pengolahan air di area dengan tutupan hutan hanya 30%. Diperkirakan bahwa setiap US$ 1 yang dihabiskan untuk perlindungan hutan dan DAS akan menghemat biaya pengolahan air sebanyak US$ 7,50 hingga US$ 200.

Dengan manfaat hutan yang sedemikian besarnya bagi kehidupan di bumi ini, apakah kita masih akan tetap acuh dan tidak peduli terhadap kelestarian hutan kita? (DD/PROFAUNA).

© 2003 - 2019 ProFauna Indonesia

ProFauna Indonesia (Temukan kami di Google+) adalah lembaga independen non profit berjaringan internasional
yang bergerak dibidang perlindungan dan pelestarian satwa liar dan habitatnya.