Ini dia Penyebab Penyu di Pangandaran Jawa Barat Terancam

Tim PROFAUNA berbagi informasi mengenai pelestarian penyu dengan pegiat lingkungan dan instansi terkait di Pangandaran Jawa Barat dalam sebuah diskusi hangat pada hari Selasa (11/7/2017). Dari diskusi itu terungkap beberapa permasalahan terkait konservasi penyu.

Bertempat di perpustakaan milik salah satu komunitas lokal, Rumah Plankton, diskusi dihadiri Dinas Kelautan Dan Perikanan (DKP) Pangandaran, KSDA Wilayah III Jawa Barat, Dinas Pariwisata Pangandaran, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pangandaran. Sedangkan pegiat lingkungan yang hadir antara lain komunitas pecinta alam Palapa, Komunitas pemerhati sampah, pelaku wisata dan Kelompok Pelestari Biota Laut (KPBL) Batu Hiu.

Dalam diskusi itu mencuat dampak ramainya wisata di Pangandaran terhadap pelestarian penyu. Salah satunya adalah permasalahan sampah yang menjadi ancaman serius bagi penyu

Diakui oleh komunitas peduli sampah kalau sampah itu menjadi masalah utama di Pesisir Pangandaran, karena masyarakat dan wisatawan membuang sampah sembarangan. "Tidak adanya sistem pengelolaan sampah yang baik membuat semakin rumitnya persoalan sampah di Pangandaran," kata Yudi, aktivis peduli sampah setempat.

"Sampah pastik yang dibuang sembarangan bisa terbawa ke laut dan membahayakan penyu karena sampah itu akan dikira ubur-ubur oleh penyu yang kemudian akan dimakannya," kata Bayu Sandi, juru kampanye PROFAUNA Indonesia.

Selain soal sampah, perdagangan telur penyu juga menjadi ancaman bagi masa depan penyu di Pangandaran. Di beberapa tempat, telur penyu masih dikonsumsi karena masyarakat percaya telur penyu dapat menambah keperkasaan pria dewasa. Selain perdagangan  telur penyu, kadang-kadang juga ada aksesoris berbahan karapas penyu sisik yang dijajakan di lapak-lapak yang bertebaran.

Praktik pembesaran tukik

Praktek pembesaran tukik juga terjadi di Pesisir Pesisir Pangandaran. Sebenarnya dalam kaidah konservasi penyu yang lazim dijalankan secara luas di seluruh dunia, pembesaran tukik (headstarting) masih termasuk dalam kategori penelitian saja, belum diakui sebagai salah satu teknik konservasi penyu yang tepat.

"Belum ada bukti ilmiah bahwa pembesaran tukik itu dapat membantu menambah populasi penyu di alam," tegas Bayu Sandi.

Praktek pembesaran tukik di kolam, bak atau aquarium dilakukan karena dikiranya dengan tukik dibesarkan terlebih dahulu sebelum dilepas ke laut itu akan mencegah kematian tukik.

"Tukik memiliki sistem navigasi berupa insting alami yang menjamin kesuksesan siklus alami mereka, semakin lama mereka ditahan di kolam, maka semakin tumpul instingnya," jelas Bayu.

Penyu adalah satwa laut yang melakukan migrasi ribuan kilometer dan suatu ketika mereka akan kembali lagi ke pantai dimana mereka dulu menetas. Itu adalah siklus alami penyu yang dilakukan berulang-ulang seumur hidup mereka untuk melanjutkan keturunan. Dengan memodifikasi siklus hidup itu dikhawatirkan akan justru mengancam kelestarian penyu. (BAY)

© 2003 - 2017 ProFauna Indonesia

ProFauna Indonesia (Temukan kami di Google+) adalah lembaga independen non profit berjaringan internasional
yang bergerak dibidang perlindungan dan pelestarian satwa liar dan habitatnya.