Hutan di Malang Selatan Beralih Fungsi, Perjumpaan Burung Rangkong Menurun 60 %

Survey terbaru PROFAUNA Indonesia di daerah Malang bagian selatan pada bulan Desember 2018 menunjukan menurunnya perjumpaan burung rangkong hingga 60%. Hal ini disebabkan deforestasi dan degradasi hutan di Malang selatan.

Tim PROFAUNA telah berkunjung ke hutan-hutan di 6 kecamatan di Kabupaten Malang untuk mengumpulkan informasi keberadaan burung rangkong yang sudah dilindungi itu. Kecamatan yang dikunjungi itu antara lain Ampeldaging, Sumbermanjing Wetan, Donomulyo, Bantur, Tirtoyudo dan Gedangan. Survey juga dilakukan di deerah yang dulunya hutan, namun kini sudah beralih fungsi menjadi lahan perkebunan atau ladang

Dalam survey yang berkunjung ke 28 desa di 6 kecamatan itu PROFAUNA fokus mendata keberadan 3 jenis burung rangkong yaitu kangkareng perut putih (Anthracoceros albirostris), julang emas (Aeros undulatus) dan rangkong badak (Buceros rhinoceros). Hasilnya menunjukan adanya penurunan sampai 60 %  perjumapaan rangkong.

Jika pada tahun 1996-1997 itu dalam sebulan bisa menjumpai rata-rata 15 kali kelompok burung rangkong di Malang Selatan, kini tim hanya menjumpai 6 kelompok. Itupun jumlah anggota kelompoknya menurun drastis.

Sebelum penebangan hutan besar-besaran pada tahun 1998 itu rata-rata jumlah individu dalam kelompok rangkong yang dijumpai sebanyak 12 ekor. Namun dalam survey terbaru bulan Desember 2018, jumlah individu yang dijumpai dalam kelompok rangkong itu rata-rata hanya 4 ekor.

"Dulu bahkan di hutan yang ada di Lebakharjo, Kecamatan Ampeldaging itu kami bisa menjumpai sampai 30 ekor rangkong dalam satu kelompok, namun hal ini akan hanya jadi kenangan karena hutan alami di Lebakharjo sudah hancur," kata Ketua PROFAUNA Indonesia Rosek Nursahid.

rangkong

Saat ini burung rangkong dalam jumlah kecil masih bisa dijumpai di beberapa wilayah antara lain Hutan Sumberagung; Teluk Apusan, Kondang Merak, Balaikambang,  Kondang Iwak; Alas Kondang Rowo; dan Gunung Gajah Mungkur. Selain itu juga dijumpai di Cagar Alam Pulau Sempu yang menjadi salah satu habitat utama burung rangkong.

"Dalam survey bulan Desember 2018, tim PROFAUNA hanya menjumpai satu spesies burung rangkong yaitu kangkareng perut putih. Kami akan terus melanjutkan monitoring ini dan berharap akan menjumpai spesies julang emas dan rangkong badak," kata Erik Yuniar, koordinator program Konservasi Hutan Dataran Rendah (KHDR) PROFAUNA.

Sebelumnya hutan di wilayah Malang bagian selatan itu dikenal sebagai habitat berbagai jenis satwa liar seperti burung rangkong (3 jenis), banteng, merak, elang jawa, lutung jawa dan macan tutul.

Sayangnya pada tahun 1998 mulai terjadi penebangan hutan ilegal secara besar-besaran di Malang Selatan. Waktu itu diperkirakan sekitar 41.000 ha gundul akibat penjarahan. Degradasi hutan itu membuat semakin terancam punahnya berbagai jenis satwa langka di wilayah Malang selatan.

Kelangsungan hidup satwa ini tergantung dengan keberadaan dengan hutan yang ada dan sebaliknya, hutan juga tergantung kepada burung seperti rangkong karena mereka membantu penyebaran biji pohon.

"Saat ini PROFAUNA Indonesia sedang mengembangkan program Konservasi Hutan Dataran Rendah (KHDR) di Malang selatan dengan pendekatan spesies kunci burung rangkong dan lutung jawa," pungkas Erik Yanuar.

Catatan: ilustrasi foto oleh 5:am Wildlife Photogaphy

Link Terkait:

© 2003 - 2019 ProFauna Indonesia

ProFauna Indonesia (Temukan kami di Google+) adalah lembaga independen non profit berjaringan internasional
yang bergerak dibidang perlindungan dan pelestarian satwa liar dan habitatnya.