Berbagai Pengalaman Dalam Menjaga Kelestarian Hutan

Salah satu agenda rutin yang diselenggarakan dua tahun sekali oleh Protection of Forest & Fauna (PROFAUNA) Indonesia adalah PROFAUNA Conference. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada penyelenggaraan PROFAUNA Conference 2015 tidak hanya Supporter PROFAUNA yang diundang sebagai peserta namun terbuka untuk masyarakat umum baik dari kalangan mahasiswa, pekerja ataupun aktivis lingkungan. Tema yang diangkat pada kegiatan ini pun sangat menarik, terkait dengan konsistensi PROFAUNA Indonesia yang bekerja pada isu hutan, tema dari Profauna Conference 2015 adalah "Speak Out For Forest".

Dalam kegiatan PROFAUNA Conference 2015 diundang pemateri-pemateri yang sangat ahli dalam bidang kehutanan mulai dari aktivis lingkungan, peneliti hutan dan satwa liar, lembaga adat yang membantu menjaga hutan, pembuat film dokumenter tentang hutan dan satwa liar serta penyampaian pengalaman yang dilakukan oleh PROFAUNA Indonesia dalam menjaga dan memperjuangkan kelestarian hutan di Indonesia.

Rustam, Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman serta peneliti satwa liar dan hutan dari Kalimantan Timur menyampaikan materi konservasi hutan melalui pendekatan ilmiah. Beliau merupakan suku Dayak yang memang sangat akrab dengan hutan sejak kecil, sehingga hutan telah menjadi bagian dari diri beliau.

Menurut Rustam, kondisi dan permasalahan kawasan konservasi di Indonesia hampir sama, diantaranya, manajeman hutan yang kurang optimal, batas kawasan yang tidak mantap, tumpang tindih dengan peruntukan lain, tekanan yang kuat dari ilegal logging, perkebunan sawit, pertambangan dan pemukiman, serta rawan kebakaran hutan.

Dalam penyampaian materi pada PROFAUNA Conference 2015, Rosek Nursahid, pendiri PROFAUNA Indonesia, mengatakan bahwa hutan Indonesia yang tersisa kini tinggal 82 juta hektar, Dalam kurun waktu 2009-2013, Indonesia kehilangan hutan seluas 4,6 juta hektar atau tujuh kali luas Provinsi DKI Jakarta dan setiap menit hutan seluas tiga lapangan bola hilang di Indonesia, sangat ironis memang. Pemetaan hutan yang dilakukan pada tahun 1999 oleh Pemerintah Indonesia dengan bantuan dari Bank Dunia (2001) menyimpulkan bahwa laju deforestasi terbesar selama periode waktu itu adalah Sulawesi, Sumatera, dan Kalimantan, yang secara keseluruhan kehilangan lebih dari 20 persen tutupan hutannya. Perubahan hutan tersebut secara langsung dan tidak langsung menyebabkan degradasi keragaman hayati dan juga menurunkan kualitas lingkungan.

Terkait dengan apa yang disampaikan oleh kedua narasumber Rustam dan Rosek Nurshid itu Darmawan Liswanto, Direktur Fauna and Flora International (FFI)  Indonesia Programme menambahkan bahwa salah satu fungsi hutan yang sangat komplek adalah sebagai penyedia karbon bagi dunia. FFI memiliki program Community Carbon Pools yaitu pengumpulan cadangan karbon yang dikelola masyarakat hutan adat. Salah satu komunitas yang telah dibentuk adalah Jambi Community Forest, tujuan dari proyek ini adalah perlindungan hutan yang tersisa di Taman Nasional Kerinci Seblat, peningkatan tata kelola hutan yang terdesentralisasi, pemantauan dan perlindungan satwa liar, peningkatan mata pencaharian  agroforestry dan  NTFP serta adanya peningkatan kapasitas komunitas.

Kerusakan hutan di Indonesia terjadi karena kepentingan-kepentingan pihak yang tidak bertanggung jawab yang menjadikan hutan sebagai lahan bisnis untuk mendapatkan keuntungan.  Namun di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan, terdapat salah satu perusahaan yang memanfaatkan hutan sebagai peluang usaha namun mereka tidak merusak hutan bahkan melestarikannya. PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REI) adalah perusahaan yang membangun hutan produksi, sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2007 menyebutkan bahwa "Ijin usaha untuk membangun hutan produksi yang memiliki ekosistem penting untuk mempertahankan fungsi dan keterwakilannya sehingga tercapai keseimbangan hayati dan ekosistemnya".

Menurut Yusup Cahyadin dari PT. Restorasi Ekosistem Indonesia yang menjadi narasumber keempat mengatakan bahwa usaha PT REI membuka peluang untuk pengelolaan hutan dengan multi produk dan jasa, mempertahankan konektivitas bentanf hutan alam dan pelestarian keragaman hayati, mampu mempertahankan ragam manfaat hutan bagi masyarakat serta mengurangi laju deforestasi dan emisi karbon dari hutan produksi. PT REI mengembangkan hutan produksi dengan nama Hutan Harapan, tujuan dari adanya Hutan Harapan ini adalah untuk mempertahankan minimal 20 persen hutan dataran rendah Sumatera dengan luas 98.555 ha. Pengelolaan hutan alam berkelanjutan untuk pemulihan ekosistem hutan dataran rendah Sumatera yang mantap dan memiliki manfaat sosial-ekonomi yang optimal melalui kegiatan restorasi ekosistem.

Sementara itu, Yatim yang mewakili lembaga Adat Wehea menceritakan kegiatan yang dilakukan oleh ranger PM di Hutan Wehea. Para ranger adalah masyarakat Desa Adat Wehea. Mereka sangat terbiasa dengan lingkungan hutan dari sejak beliau kecil, sehingga hutan menjadi tidak asing bagi mereka. Para Ranger PM itu diberikan pelatihan oleh PROFAUNA Borneo untuk menjaga hutan serta bagaimana menjaga diri dengan pelatihan bela diri.

Narasumber terakhir yang menyampaikan materi di PROFAUNA Conference 2015 adalah Mr. Joe Yaggi, seorang pembuat film dokumenter tentang hutan dan satwa liar. Beliau mengatakan bahwa dalam mebuat film dokumenter harus sesuai dengan kondisi asli di hutan. Mr Yoe Yaggi mengomentari pembuatan tayangan telivisi pada jaman sekarang yang menayangkan satwa liar di hutan. Beberapa tayangan televisi tersebut lebih mengarah ke pembohongan publik, karena pada hakikatnya sangat sulit menemukan satwa liar di hutan. Tim dari program tayangan tersebut membawa satwa yang sudah jinak dan dibawa masuk ke dalam hutan, kemudian pembawa acara seolah-olah menemukan satwa liar yang ada di hutan. Kebohongan tersebut sebaiknya tidak dilakukan karena akan berdampak pada psikologis penonton bahwa mudah menemukan hewan liar di hutan dan hutan sangat berbahaya jika dikunjungi oleh masyarakat.

Dari seluruh penjelasan materi yang disampaikan oleh narasumber, dapat disimpulkan bahwa hutan tidak hanya penyedia kayu bagi kebutuhan manusia. Hutan merupakan satu kesatuan dari kehidupan seluruh mahkluk hidup yang ada di bumi termasuk manusia dan satwa liar. Hutan memberikan kita sumber oksigen yang sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan hidup manusia dan satwa. Hutan juga menjadi rumah bagi satwa liar, tanpa rumah dan sumber daya pangan mereka akan mati seperti halnya manusia.

Pemanasan global yang sedang gencar-gencarnya dibicarakan oleh seluruh umat manusisa di dunia adalah dampak dari kerusakan hutan melalui penebangan liar. Indonesia merupakan salah satu paru-paru dunia yang menjadi harapan bagi seluruh umat manusia di dunia untuk mereka mempertahankan kehidupan melalui kebutuhan oksigen.

Bayangkan jika sudah tidak ada lagi hutan yang ada, mungkin akan terjadi kepunahan bagi umat manusia. Diharapkan adanya kebijakan dari pemerintah Indonesia untuk mampu menjaga, mempertahankan dan melestarikan hutan yang ada di Indonesia. Selain itu diharapkan pula munculnya aktivis-aktivis lingkungan yang mau menyuarakan dan memperjuangkan keberadaan hutan dan satwa liar, dengan cara melakukannya dari diri sendiri atau bergabung dengan organisasi lingkungan yang konsisten dengan isu-isu hutan tanpa adanya tekanan atau campur tangan dari pihak-pihak perusak hutan. 

Hutan dan satwa liar tidak dapat berbicara, namun kita dapat berbicara untuk mereka. SALAM LESTARI..

Penulis: Dwiyana Anela

Editor: Rosek Nursahid

© 2003 - 2019 ProFauna Indonesia

ProFauna Indonesia (Temukan kami di Google+) adalah lembaga independen non profit berjaringan internasional
yang bergerak dibidang perlindungan dan pelestarian satwa liar dan habitatnya.