Belajar Konservasi Penyu yang Benar, Tukik Perlu Segera Dilepas ke Laut

Tiga puluh orang pegiat konservasi penyu dari berbagai daerah mengikuti pelatihan konservasi penyu yang diadakan oleh PROFAUNA Indonesia dan Yayasan Penyu Indonesia (YPI) di Pantai Tamban, Kabupaten Malang, pada tanggal 18 Juli 2019.

Pelatihan konservasi penyu ini bukan sekedar teori, namun lebih banyak praktek langsung di lapangan. Dengan dipandu oeh Bayu Sandi, Ketua YPI, peserta diajak praktek langsung dalam mengevakuasi penyu yang terdampar dan relokasi telur anak penyu yang biasa disebut tukik.

Prakteknya tidak menggunakan penyu hidup, namun simulasi dengan memakai boneka penyu. Selain boneka, Bayu juga meminta beberapa orang peserta berperan sebagai penyu yang akan dievakusi.

Pelatihan yang diikuti peserta dari Malang, Surabaya, Probolinggo, Sidoarjo, Bandung, Jakarta, Luwuk dan Bontang itu berlangsung dengan seru. Sesi praktek evakuasi penyu dan relokasi telur penyu menjadi momen yang paling disambut antusias oleh peserta.

Dalam pelatihan dari pagi hingga tengah hari tersebut bayu juga menjelaskan skeils tentang pengenalan jenis penyu yang ada di Indonesia dan soal pelepasan tukik yang benar.

"Tukik yang baru menetas itu sebaiknya segera dilepas ke laut, tidak perlu dibesarkan dulu di bak-bak penampungan. Semakin cepat tukik itu dilepas kemungkinan dia bertahan hidup itu semakin tinggi," jelas Bayu yang punya program pengelolaan penyu di Pulau Belambangan, Berau.

Pendiri PROFAUNA Indonesia Rosek Nursahid yang turut hadir dalam pelatihan itu menambahkan, "Saya tidak melihat ada alasan yang kuat tentang mengapa anak penyu itu ditahan di bak penampungan, mengapa tidak langsung saja dilepas ke alam. Memelihara penyu di bak itu juga akan memakan biaya, selain tidak ada pembenaran kuat secara ilmiah"

Di beberapa tempat, PROFAUNA melihat ada pemeliharaan penyu yang diklaim sebagai 'penangkaran' penyu. Ironisnya, jika ada wisatawan yang hendak melepas tukik ke laut itu diminta donasi uang dengan alasan untuk biaya perawatan penyu. Padahal jika tukiknya langsung dilepas ke laut ketika baru menetas itu akan menghilangkan biaya pemeliharaan.

Di akhir acara, PROFAUNA membagikan sedotan minuman berbahan stanless yang bisa dipakai berulang kali. Semua pesert mendapatkan sedotan air minium tersebut.

"Sedotan air minum yang terbuat dari plastik yang sekali pakai itu tidak ramah lingkungan, dan ketika sampai di laut itu juga mengancam keselamatan penyu karena ada beberapa kasus itu penyu menganggap sedotan plastik sebagai makanannya sehingga bisa mengakibatkan kematian penyu," kata Bayu.

Link Terkait:

© 2003 - 2019 ProFauna Indonesia

ProFauna Indonesia (Temukan kami di Google+) adalah lembaga independen non profit berjaringan internasional
yang bergerak dibidang perlindungan dan pelestarian satwa liar dan habitatnya.