10 Tahun Bersama Profauna Indonesia

Oleh: Mokhamad Ali Rouf (Suporter Profauna yang bekerja sebagai PNS dan tinggal di Jakarta)

Tak terasa sepuluh tahun sudah saya bergabung di Profauna Indonesia. Masih segar dalam ingatan saya 10 tahun yang lalu saat kuliah di bumi AREMA. Awal tahun 2000 an nama Profauna Indonesia belumlah setenar sekarang, tinggal tanya om google maka akan muncul ribuan berita tentang Profauna Indonesia, internet masih menjadi barang langka.

Organisasi lingkungan yang saya kenal saat itu hanyalah beberapa, sebut saja "G dan W", dan itupun untuk menjadi anggota aktif harus merogoh saku yang lumayan dalam, rutin tiap bulan dan perwakilannya juga tidak ada di Malang. Imposible untuk seorang mahasiswa perantau seperti saya unuk berperan aktif di sana. Dan lebih lagi hati ini juga kurang sreg, masa sih tidak ada organisasi local yang perjuangkan lingkungan dan satwa di bumi nusantara ini?

Alhamdulillah seperti judul novel Best Seller "Man Jadda wa Jadda", setelah 7 semester pencarian mulai ada titik terang saat di lapangan kampus diadakan bazar mahasiswa baru. Disanalah perkenalan awal saya dengan Profauna Indonesia. Melalui interogasi dengan para volunteer tentang apa dan bagaimana Profauna Indonesia, Mantaplah saya untuk bergabung.

Tepat bulan Desember mendekati Ulang tahunnya yang ke-10 resmilah saya memakai kaos logo berlambang Lutung Jawa sebagai symbol bahwa saya telah menjadi member (saat itu nama supporter masih member) Profauna Indonesia. Beruntung, saya menjadi salah satu member yang diundang dalam peringatan ulang tahun Profauna yang diadakan tanggal 26 Desember 2004 di P-WEC (Petungsewu Wildlife Education Center).

Keingintahuan tentang kiprah organisasi ini untuk kelestarian alam di Indonesia terjawab sudah langsung dari Bapak Rosek Nursahid, Founding Father Profauna Indonesia yang awalnya bernama KSBK itu . Keyakinan saya semakin tertanam dalam hati saya bahwa Keputusan saya untuk bergabung disini tepat, karena paginya di saat acara berlangsung bencana tsunami maha dahsyat menimpa bumi serambi Mekkah. Dengan sigap Profauna Indonesia segera menurunkan Tim Freedom Fighter untuk ikut membantu evakuasi di Aceh. Kata mas Rosek, "Kalau kita peduli terhadap satwa sudah pasti kita akan peduli terhadap manusia".

Sejak saat itu dengan yakin saya menjadi "Free Marketing" Profauna Indonesia, karena saya beranggapan bahwa dengan semakin banyak orang yang bergabung dengan Profauna Indonesia secara otomatis akan semakin banyak orang yang peduli dengan kelestarian alam beserta satwa di dalamnya.

Masih terngiang kata-kata dari Mbak Heny (staf Profauna Indonesia pada waktu itu), "Rouf, kamu jadi orang pertama di dunia yang memakai kaos ini, sebagai reward karena banyak menarik orang untuk bergabung dengan Profauna Indonesia". Wah senang rasanya mendengar kata-kata itu, walaupun reward berupa kaos "limited edition" bukan merupakan tujuan, tapi setidaknya kontribusi sudah ada walaupun masih sangat kecil.

Kaos itu masih ada sampai sekarang sebagai salah satu kaos favorit yang paling sering saya pakai. Kondisi saat itu sangat pas, karena kebetulan aktifitas saya di organisasi kemahasiswaan cukup padat, disetiap ada kesempatan saya kenalkan Profauna, diantaranya dengan membawa teman-teman membuat kegiatan di P-WEC, dari mulai BEM, Himpunan Mahasiswa, LDK dll. Dari situlah nama P-WEC mulai di kenal di kampus, bahkan tercatat saat itu member terbanyak dari kampus di Malang berasal dari fakultas perikanan tempat dimana saya kuliah. Kegiatan-kegiatan diskusi, bazar dll juga kita adakan di kampus untuk mengenalkan Profauna.

Bulan Agustus 2005 perhelatan besar Profauna di adakan di P-WEC 33 peserta pilihan dari seluruh Indonesia di undang dalam Pro Fauna Conference, saya termasuk yang beruntung mendapatkan undangan. Di sinilah saya kenal tokoh-tokoh hebat pejuang lingkungan yang berjuang tanpa pamrih di tengah kondisi bangsa yang memprihatinkan.

Di forum ini juga Mas Rosek "menantang" saya untuk membuat forum para ulama pesantren membahas "Satwa dalam Pandangan Islam". Tantangan itu terpatri dalam hati, kapan bisa diwujudkan. Tahun 2008 saat Profauna Conference 2008 saya di undang untuk mempresentasikan bagaimana satwa dalam pandangan Islam. Di Forum itu Mas Rosek menanyakan lagi tentang tantangannya 3 tahun silam. Baru 5 tahun setelah Profauna Conference 2005, akhirnya workshop itu terselenggara dengan mengundang perwakilan pesantren di Indonesia bekerjasama dengan Pesantren Mahasiswa Al-Hikam. Alkhamdulillah acara sukses dengan menghasilkan buku yang telah dicetak dan di bagikan gratis ke kalangan pesantren.

Pada akhir tahun 2005 PF mengadakan Soft Campaign di depan istana Negara Jakarta. aksi ini tercatat merupakan aksi terbesar yang dilakukan sepanjang sejarah Profauna, diikuti member dari Malang, Jogjakarta, Jakarta dll dengan berbagai balon satwa raksasa beserta spanduknya. Aksi ini tak akan pernah terlupakan karena saat itu rombongan dari Malang memakai bus Freedom Fighter mendadak mampir ke rumah saya di Purwokerto pukul 02.00 dinihari, yang sempat membuat tetangga bingung ada rombongan datang larut malam cuma numpang mandi dan makan, inilah Profauna Indonesia ikatan kita tidak sebatas organisasi namun sudah seperti keluarga.

Aksi itu menjadi headline kurang lebih 50 media cetak dan media elektronik local, nasional maupun internasional. Campaign ini berbarengan dengan demo buruh, sehingga untuk menghindari bentrokan kita mengalah bergeser lokasi, justru disaat pergeseran dan memindahkan balon-balon polisi ikut membantu mengangkat, dan menjadi moment yang menarik bagi wartawan untuk di abadikan dan gambar itu banyak yang menjadi headline surat kabar di tanah air, bahkan setelah aksi selesai  banyak polisi meminta berfoto dengan balon satwa kita, ini menggambarkan aksi kita memang damai tanpa kekerasan.

"Supporter Jakarta Memang ga ada mati-nya", begitu komentar Pak Rosek Nursahid di Facebook. Saya setuju 100%, awalnya saya kenal dekat dengan mereka pada saat awal merantau di Jakarta tahun 2010. Salut, kata itu yang muncul dalam benak saya, dalam kesibukan masing-masing supporter dan keruwetan kota Jakarta, mereka selalu siap pada saat di SMS Bu Dir (sebutan untuk Mbak Irma, Koordinator Profauna Jakarta) untuk membantu setiap program Profauna di Jakarta tanpa imbalan..

Sebagai organisasi besar tentunya Profauna juga tidak luput dari berita miring. Sudah menjadi hukum alam semakin tinggi pohon maka angin yang menerpa akan semakin kencang, namun angin tersebut akan membuat pohon itu semakin kuat dan akarnya semakin menancap di bumi. Bagi saya hal itu sudah biasa dalam organisasi manapun pasti ada like and dislike, tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Dari sisi pendanaan yang lebih banyak mengandalkan supporter, penjualan assesoris dan donasi yang di pastikan bebas dari KKN sudah mengindikasikan kesolidan organisasi ini. Profauna Indonesia sejak lahir sampai sekarang merupakan NGO yang tidak mau mendapat dana dari perusahaan tambang, rokok, sawit dll.

Profauna Indonesia tetap konsisten menjunjung tinggi idealismenya, karena keberhasilan perjuangan bukan hanya ditentukan oleh banyaknya dana yang mengalir namun justru komitmen dari perjuangan itu sendiri. Inilah yang membuat supporter-supporternya semakin bertambah dan semakin militant.

Profauna juga merupakan kawah candradimuka para aktivis lingkungan di Indonesia, karena banyak aktifis-aktivis lingkungan "gila yang tergabung dalam LSM baik lokal di daerah, nasional maupun internasional dulunya pernah di tempa di Profauna. Terlepas diakui atau tidak, Profauna Indonesia adalah guru sekaligus ibu kandung mereka.

Pesan saya buat kawan-kawan yang sudah bergabung dengan Profauna Indonesia, yakinlah kalian tidak salah pilih, niatkanlah untuk Ibadah, karena apa yang kita perjuangkan agar alam ini tetap lestari beserta satwa di dalamnya merupakan perintah agama yang harus dijalankan.

Perbuat dari mulai hal-hal yang kecil, karena segala sesuatu pasti di mulai dari yang kecil, sama seperti Profauna yang awalnya hanya mimpi dari segelintir orang akhirnya setelah 20 tahun menjadi virus dan momok yang menakutkan bagi para perusak lingkungan dan mafia penyelundup satwa. Ajaklah sebanyak mungkin keluarga dan teman untuk ikut bergabung dalam perubahan ini, menjadi virus untuk kebaikan.

Apabila ada 1000 orang pejuang lingkungan, pastikan anda ada di dalamnya, apabila ada 100 orang pejuang lingkungan pastikan anda di dalamnya, dan apabila hanya tinggal 1 orang pejuang lingkungan, Pastikan bahwa itu Anda!!!

Selamat Ulang tahun yang ke- 20 Profauna Indonesia...Tetap istiqomah!!! Perjuangkan kelestarian satwa dan habitatnya.....

© 2003 - 2019 ProFauna Indonesia

ProFauna Indonesia (Temukan kami di Google+) adalah lembaga independen non profit berjaringan internasional
yang bergerak dibidang perlindungan dan pelestarian satwa liar dan habitatnya.